facebook twitter
 
home » news

6 Agustus 2017: IR 3
Dibuat : 06/08/2017 07:12:13

MANUSIA DAGING VS MANUSIA ROH

Pdt. Agus Lutan

Ibadah Raya III - Pkl. 11.15 WIB – 6 Agustus 2017

                                                                                                        

“Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera”. (Rom. 8:6)

 

Alkitab mengatakan keinginan terdapat dua yaitu keinginan daging dan roh. Dimana keinginan daging membawa kita kepada kematian, sedangkan keinginan roh mendatangkan hidup dan damai sejahtera bagi kita.

Manusia diciptakan oleh Tuhan dengan memiliki 3 dimensi yaitu :

1.       Roh, dimensi dimana manusia bisa mengenal, menyembah dan beribadah kepada Tuhan

2.       Fisik/Tubuh, dimensi dimana manusia bisa mengenal satu dengan yang lain (casing/kondisi yang tampak dari luar)

3.       Jiwa, dimensi dimana manusia mengenal dirinya sendiri, terdiri dari 3 bagian yaitu: emosi, pikiran, dan kehendak.

                                                                                                       

Saat ini masalah yang dihadapi manusia kebanyakan bukan lagi hanya masalah fisik/tubuh atau sakit penyakit tubuh yang disebabkan bakteri atau virus, melainkan masalah kejiwaan seperti stress dan depresi. Orang Kristen juga mengalami masalah ini juga.

Rasul Paulus membagi manusia menjadi 3 tahapan atau level, yaitu :

1.       Manusia duniawi, manusia yang didominasi oleh tubuh dan jiwa saja, rohnya mati sehingga dia tidak lagi menyembah Tuhan.

2.       Manusia yang kedagingan (carnal), manusia memiliki keinginan daging yang lebih kuat dibanding keinginan roh.

3.       Manusia rohani, adalah manusia yang rohaninya lebih dominan ketimbang keinginan dagingnya.

 

Jiwa disebut sebagai kolektor dimana dibagian jiwa ini terkumpul apa yang ingin kita kumpulkan, apakah hal-hal yang bersifat kedagingan ataukah hal-hal yang bersifat rohani. Hal ini tegantung kepada pintu mana yang kita buka, pintu ke hal-hal yang bersifat kedagingan ataukah pintu ke hal-hal rohani? Jika pintu ke hal-hal yang bersifat kedagingan kita buka maka pintu ke hal-hal rohani akan tertutup, begitu juga sebaliknya. Contoh dalam Alkitab yang bisa kita lihat dari kisah Kain dan Habel dan juga kisah Daud yang berzinah dan membunuh. Kain membunuh adiknya Habel karena marah (melihat dan mendengar bahwa Tuhan lebih berkenan terhadap persembahan Habel). Daud adalah orang yang taat kepada perintah Tuhan namun bisa jatuh ke dalam dosa perzinahan dan membunuh karena tidak taat (tidak ikut berperang kemudian melihat Batsyeba/istri Uria mandi).

 

Tubuh kita terdiri dari 5 panca indra: mata (indra penglihatan), telinga (indra pendengaran), lidah (indra pengecap), hidung (indra penciuman) dan kulit (indra peraba). Kelima indra ini jika kita gunakan dengan tidak benar maka akan mempengaruhi emosi/jiwa kita sampai akhirnya kita berbuat dosa. Melihat, mendengar, mencium, mengecap atau meraba hal-hal yang tidak benar akan menghasilkan dosa. Hati-hati mempergunakan indra kita. Banyak dari manusia yang lebih terbuka pintu dagingnya ketimbang pintu rohaninya, lebih sering mengikuti keinginan daging sehingga jatuh ke dalam dosa.  Iblis sering sekali bermain di dalam kejiwaan seseorang, karena disanalah iblis akan lebih mudah menyerang manusia melalui emosi ataupun pikiran manusia sehingga menghasilkan sesuatu perbuatan yang tidak dikehendaki Tuhan (dosa).

Sebagai anak Tuhan haruslah kita hidup dipimpin oleh Roh bukan lagi dipimpin oleh daging.

 

Untuk memiliki hidup yang berkenan oleh Tuhan serta diberkati oleh Tuhan maka kita harus menutup pintu kedagingan kita. Kita harus berhenti hidup dengan menuruti segala keinginan daging. Bagaimana cara menutup pintu kedagingan? yaitu dengan cara berbalik dan bertobat kepada Tuhan, dan memulai hidup yang baru yang dipimpin oleh roh kudus.

 

Tetapi makanan keras adalah untuk orang-orang dewasa, yang karena mempunyai pancaindera yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat. (Ibr. 5:14)

 

Manusia daging memiliki emosi yang naik turun, karena dipengaruhi oleh kondisi luar/kedagingan kita dan selalu menuntut. Sedangkan, manusia yang dewasa secara rohani adalah manusia yang sudah dapat memakan makanan keras, yang artinya manusia itu sudah dapat membedakan sesuatu yang baik dan sesuatu yang jahat, memiliki sikap yang menuntun. Manusia yang sudah dewasa secara rohani pasti juga sudah terlatih secara jiwa dan roh. Dimana dia sudah memiliki iman yang kuat dan tidak lagi goyah seperti manusia daging. Iman yang kuat merupakan ciri utama manusia rohani. Untuk menjadi manusia rohani yang seutuhnya kita harus terlebih dahulu melatih roh kita. Bagaimana caranya? yaitu dengan cara membaca firman Tuhan dan merenungkannya, berdoa & melatih panca indra kita untuk dapat membedakan yang baik dari pada yang jahat.

 

Mari menjadi manusia rohani yang memiliki panca indra yang terlatih untuk membedakan yang baik dari pada yang jahat. Diperlukan latihan yang sungguh-sungguh dan proses untuk semakin memperbaharui kita menjadi manusia rohani yang memuliakan nama Tuhan.

Amin! God Bless You