facebook twitter
 
home » news

13 Agustus 2017: IMPACT
Dibuat : 13/08/2017 08:32:08

MERESPONI PANGGILAN TUHAN

Eradi P. Tjandra, BBCM, MProDev, Dip. Min

Ibadah Impact - Pkl. 14.00 WIB – 13 Agustus 2017

 

Berfirmanlah TUHAN kepada Abram: "Pergilah dari negerimu dan dari sanak saudaramu dan dari rumah bapamu ini ke negeri yang akan Kutunjukkan kepadamu; Aku akan membuat engkau menjadi bangsa yang besar, dan memberkati engkau serta membuat namamu masyhur; dan engkau akan menjadi berkat. Aku akan memberkati orang-orang yang memberkati engkau, dan mengutuk orang-orang yang mengutuk engkau, dan olehmu semua kaum di muka bumi akan mendapat berkat." Lalu pergilah Abram seperti yang difirmankan TUHAN kepadanya, dan Lotpun ikut bersama-sama dengan dia; Abram berumur tujuh puluh lima tahun, ketika ia berangkat dari Haran. Abram membawa Sarai, isterinya, dan Lot, anak saudaranya, dan segala harta benda yang didapat mereka dan orang-orang yang diperoleh mereka di Haran; mereka berangkat ke tanah Kanaan, lalu sampai di situ. Abram berjalan melalui negeri itu sampai ke suatu tempat dekat Sikhem, yakni pohon tarbantin di More. Waktu itu orang Kanaan diam di negeri itu.

(Kej. 12:1-6)

 

Abraham adalah anak dari Terah yang berangkat bersama-sama ayahnya keluar dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, seperti yang Tuhan perintahkan. Ada proses kehidupan yang dialami Abraham saat dia meresponi panggilan Tuhan, tidak mudah namun Abraham berani untuk meresponi panggilan Tuhan, keluar dari zona nyamannya dan mengikuti apa yang Tuhan perintahkan untuk dia kerjakan sampai Tuhan menyatakan janji-janji-Nya kepada Abraham dan keturunannya.

Apa yang harus kita lakukan untuk meresponi panggilan Tuhan:

1.       Keluar dari Zona Nyaman

Lalu Terah membawa Abram, anaknya, serta cucunya, Lot, yaitu anak Haran, dan Sarai, menantunya, isteri Abram, anaknya; ia berangkat bersama-sama dengan mereka dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, lalu sampailah mereka ke Haran, dan menetap di sana.

(Kej. 11:31)

Terah berangkat keluar dari Ur-Kasdim untuk pergi ke tanah Kanaan, namun Terah tidak sampai ke tanah Kanaan, dia hanya sampai di Haran saja, berbeda dengan Abraham, Abraham sampai ke tanah Kanaan. Seringkali kita terlalu nyaman dengan zona nyaman kita. Kita malas bahkan tidak mau untuk keluar dari zona nyaman. Apa yang menjadi zona nyaman kita? Zona nyaman ini yang menjadi penghalang antara kita dengan panggilan Tuhan dalam hidup kita, mari kita selidiki dan berusaha untuk bisa keluar, melakukan gebrakan agar kita dapat meresponi panggilan Tuhan dengan benar.

2.       Berani Melangkah

Berani melangkah berarti berani bertindak, melakukan sesuatu. Tidak hanya bicara saja atau komentar saja namun berani untuk bertindak, melakukan aksi (action) sesuai dengan apa yang Tuhan perintahkan.

3.       Tetap Berdiri Teguh

Ketika kelaparan timbul di negeri itu, pergilah Abram ke Mesir untuk tinggal di situ sebagai orang asing, sebab hebat kelaparan di negeri itu. (Kej. 12:10)

Sebab itu Lot memilih baginya seluruh Lembah Yordan itu, lalu ia berangkat ke sebelah timur dan mereka berpisah. Abram menetap di tanah Kanaan, tetapi Lot menetap di kota-kota Lembah Yordan dan berkemah di dekat Sodom. (Kej. 13:11-12)

Tetap menjalani proses yang Tuhan berikan. Saat kita sudah meresponi panggilan Tuhan, seringkali kita mengalami masalah dan pergumulan, dalam hal ini mari belajar untuk tetap berdiri teguh dan setia dalam menjalani panggilan Tuhan. Masalah dan pergumulan merupakan proses yang Tuhan berikan agar kita bisa semakin mengandalkan Tuhan dan diperlengkapi. Sama seperti yang Abraham alami ketika dia meresponi panggilan Tuhan untuk keluar dari tanah Ur-Kasdim, dia tetap mengalami masalah dan pergumulan namun Abraham tetap setia dan teguh mengikut Tuhan.

4.       Merubah Perspective Kita

Kemudian datanglah firman TUHAN kepada Abram dalam suatu penglihatan: "Janganlah takut, Abram, Akulah perisaimu; upahmu akan sangat besar." Abram menjawab: "Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu." Lagi kata Abram: "Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku." Tetapi datanglah firman TUHAN kepadanya, demikian: "Orang ini tidak akan menjadi ahli warismu, melainkan anak kandungmu, dialah yang akan menjadi ahli warismu." Lalu TUHAN membawa Abram ke luar serta berfirman: "Coba lihat ke langit, hitunglah bintang-bintang, jika engkau dapat menghitungnya." Maka firman-Nya kepadanya: "Demikianlah banyaknya nanti keturunanmu." Lalu percayalah Abram kepada TUHAN, maka TUHAN memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran. (Kej. 15:1-6)

Seringkali kita mengandalkan kekuatan kita sehingga kita sulit melihat kekuatan Allah yang besar. Kita terbatas namun Allah yang kita sembah adalah Allah yang tidak terbatas. Cara kita melihat, memandang dan berpikir harus berubah sesuai dengan apa yang Tuhan mau. Apa yang Tuhan rencanakan seringkali tidak bisa kita mengerti namun ketika itu adalah panggilan dari Tuhan maka percaya saja kepada-Nya, sebab DIA yang maha tahu akan segala sesuatu.

Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang maha besar, layak menerima penyembahan yang terbaik dari kita. Ketika kita menerima panggilan Tuhan mari berikan respon yang terbaik, keluar dari zona nyaman kita, tetap berdiri teguh mengikuti proses yang ada dan merubah perspective kita agar dapat melakukan apa yang Tuhan perintahkan untuk kita kerjakan.

Amin! God Bless You